<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Toko Tenun :: Pusat Kain Tenun Ikat Indonesia</title>
	<atom:link href="http://www.tokotenun.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.tokotenun.com</link>
	<description>Tokotenun.com is Indonesian online weaving store. Kami menjual koleksi beragam jenis, motif dan corak kain tenun ikat tradisional asli ATBM dari daerah Indonesia yang berkualitas dengan harga relatif murah. Troso jepara, Bali, NTT, tenun poleng/catur, endek, geringsing bali, ulos, sintang, dll. NNmze8O0MWumk4RdVAFeWF17l4U</description>
	<pubDate>Tue, 15 May 2012 10:02:34 +0000</pubDate>
	
	<language></language>
		

	<item>
		<title>Pesona Kain Tenun Khas NTT</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=74</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=74#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 03:41:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kabar Kain Ikat]]></category>

		<category><![CDATA[kain tenun]]></category>

		<category><![CDATA[NTT]]></category>

		<category><![CDATA[tenun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Bagian timur wilayah nusantara mempunyai pesona khas tenun etnik. Berbagai suku yang mendiaminya mempunyai budaya yang mempesona. Salahsatunya kain tenun di Sumba. Saat upacara keagamaan, pernikahan, kematian dan acara adat lain, kain tenun menjadi simbol untuk bertukar hadiah dan penghargaan. Cara mengenakan kain tenun antara pria dan wanita pun berbeda. Untuk pria, kain tenun disebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagian timur wilayah nusantara mempunyai pesona khas <a href="http://www.tokotenun.com/product.php?category=3">tenun etnik</a>. Berbagai suku yang mendiaminya mempunyai budaya yang mempesona. Salahsatunya kain <a href="http://www.tokotenun.com">tenun</a> di Sumba. Saat upacara keagamaan, pernikahan, kematian dan acara adat lain, kain tenun menjadi simbol untuk bertukar hadiah dan penghargaan. Cara mengenakan kain tenun antara pria dan wanita pun berbeda. Untuk pria, kain tenun disebut Hinggi dikenakan dengan cara diikat. Sedangkan kain untuk wanita yang disebut sarung  Lau Pihikung tidak diikat.</p>

<p>Cara pembuatan kain tenun Hinggi menggunakan teknik yang tergolong tua di wilayah negara kita. Pertama, benang dibentangkan dengan posisi memanjang untuk merancang gambar corak yang selanjutnya diikat dengan tali dan dicelupkan pewarna untuk memperoleh warna dasar. Setelah kering, selanjutnya adalah membuka kalita atau tali gewang pada pola tertentu yang akan dicelupkan pada warna berbeda. Warna dasar umumnya biru dan kedua merah kombu. Pewarna yang meresap dalam benang akan membentuk motif yang menjadi cirri khas tenun ikat. Sementara sarung Lau Pihikung umumnya mempunyai warna dasar dan corak yang disulamkan pada bagian bawah Lau. Untuk menata benang dan corak kain, biasanya digunakan lidi.</p>

<p>Bukan hanya Sumba Timur, daerah lain di NTT juga menghasilkan motif kain tenun yang khas. Tenun dari suku Amarasi di Timor misalnya. Motif yang dihasilkan merujuk status social alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Tenun Sikka terkenal dengan warna gelap seperti hitam atau biru tua dengan corak putih, kuning atau merah.</p>

<p>Walau banyak bernafaskan kepercayaan religi, pada era modern kain tenun menjadi produk seni. Penggunanya pun meluas. Tak ketinggalan para desainer juga menggunakan kekayaan budaya kain tenun NTT sebagai inspirasi rancangan busana.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=74</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Tenun Ikat Berbahan Kapas Lokal</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=71</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=71#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 06:08:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kabar Kain Ikat]]></category>

		<category><![CDATA[Sentra Tenun]]></category>

		<category><![CDATA[NTT]]></category>

		<category><![CDATA[tenun]]></category>

		<category><![CDATA[tenun ikat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Bisnis tenun ikat tradisional memang membutuhkan kesabaran, juga ketekunan. Apalagi bila bahan baku benang yang digunakan berasal dari kapas dari hasil budidaya kelompok sendiri. Kondisi seperti ini dijalani 42 kelompok pengrajin tenun ikat di suku Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Tenun ikat dengan bahan baku kapas asli memang lebih mahal dan bernilai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bisnis <a href="http://www.tokotenun.com/">tenun ikat</a> tradisional memang membutuhkan kesabaran, juga ketekunan. Apalagi bila bahan baku benang yang digunakan berasal dari kapas dari hasil budidaya kelompok sendiri. Kondisi seperti ini dijalani 42 kelompok pengrajin tenun ikat di suku Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Tenun ikat dengan bahan baku kapas asli memang lebih mahal dan bernilai adat tinggi.</p>

<p>Masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki kemampuan membuat <a href="http://www.tokotenun.com/">tenun</a> ikat dengan berbagai motif. Namun, hampir semuanya menggunakan bahan baku benang toko. Maklum, benang pabrikan yang dijual di toko lebih mudah diperoleh.</p>

<p>Meski demikian, kesulitan tak menghalangi Maria Yovita Meta (49) menggunakan kain tenun dari kapas lokal. Penggiat tenun ikat di NTT ini bahkan membina 30 pelajar perempuan dari beberapa sekolah di kota Kefamenanu, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dalam keterampilan menenun.</p>

<p>Selain itu, melalui Yayasan Taveam Pah yang dipimpin Meta juga membina 75 kelompok tenun ikat. Sekitar 42 kelompok tenun ikat menggunakan bahan kapas lokal dan 33 lainnya memilih benang toko. Ke-42 kelompok binaannya beranggotakan 750 orang. Tiap kelompok antara 10-15 orang. Mereka berada di 12 desa di tiga kecamatan, khusus suku Biboki.</p>

<p>Meta selalu menekankan kelompoknya agar menanam kapas. Juga membudidayakan tanaman tarum untuk pewarna.</p>

<p>Hasil tenun kelompok dipasarkan melalui Meta. Selendang sepanjang 1 meter dengan lebar 20-40 sentimeter dibanderol Rp 150.000-Rp 400.000 per lembar. Harga juga mempertimbangkan dari tingkat kesulitan prosesdari pengadaan benang sampai menjadi kain. Sarung panjang 1,7 meter dan lebar 1,5 meter dijual antara Rp 1,7 juta-Rp 2,5 juta. Sedangkan Sarung benang kapas tentu lebih mahal.  Sementara hasil tenunan dengan bahan benang toko hanya Rp 50.000-Rp 200.000 per selendang dan sarung dijual Rp 250.000-Rp 750.000 per lembar.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=71</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Endek Weaving Hunted by People</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=70</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=70#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 07:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Weaving Cloth]]></category>

		<category><![CDATA[bali]]></category>

		<category><![CDATA[balinese]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[








Balinese handicrafts woven fabrics Endek, interest among the people of upper middle class. They hunt both endek silk fabric and cotton.

&#8220;In terms of strength, actually made ​​from silk threads Endek with cotton, the same thing. However, the upper middle class are more inclined to choose the type of silk, especially from the softness of fabric [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span>
<div id="gt-c" class="g-section">
<div id="gt-form-c"><form id="gt-form" action="http://translate.google.com/?hl=en&amp;tab=wT" enctype="application/x-www-form-urlencoded" method="post">
<div id="gt-text-c">
<div id="gt-res-c" class="g-unit">
<div id="gt-res-p">
<div id="gt-res-data">
<div id="gt-res-wrap">
<div id="gt-res-content" class="almost_half_cell">
<div dir="ltr"><span id="result_box" lang="en"><span class="hps">Balinese</span> <span class="hps">handicrafts</span> <span class="hps">woven</span> <span class="hps">fabrics</span> <span class="hps"><a href="http://www.tokotenun.com">Endek</a></span><span>,</span> <span class="hps">interest</span> <span class="hps">among the people</span> <span class="hps">of</span> <span class="hps">upper middle</span> <span class="hps">class</span><span>.</span> <span class="hps">They</span> <span class="hps">hunt</span> <span class="hps">both</span> <span class="hps">endek</span> <span class="hps">silk</span> <span class="hps">fabric</span> <span class="hps">and</span> <span class="hps">cotton</span><span>.</span><br />
<br />
<span class="hps atn">&#8220;</span><span>In terms of</span> <span class="hps">strength</span><span>,</span> <span class="hps">actually</span> <span class="hps">made ​​from</span> <span class="hps">silk threads</span> <span class="hps">Endek</span> <span class="hps">with</span> <span class="hps">cotton</span><span>,</span> <span class="hps">the same thing.</span> <span class="hps">However</span><span>,</span> <span class="hps">the upper middle class</span> <span class="hps">are more inclined</span> <span class="hps">to choose</span> <span class="hps">the type</span> <span class="hps">of silk</span><span>,</span> <span class="hps">especially from the</span> <span class="hps">softness of</span> <span class="hps">fabric</span> <span class="hps">and</span> <span class="hps">prestige</span><span>,</span><span>&#8221; the</span> <span class="hps">craftsman</span> <span class="hps atn">&#8220;</span><span>Endek</span><span>&#8220;</span><span>,</span><span class="hps">Frida</span> <span class="hps">Goddess</span><span>,</span> <span class="hps">at</span> <span class="hps">Exhibition</span> <span class="hps">the Balinese</span> <span class="hps">craft</span> <span class="hps">that took place</span> <span class="hps">on</span> <span class="hps">February 27 to March 1</span><span>, 2012 in</span> <span class="hps">Denpasar</span><span>,</span> <span class="hps">Bali</span><span>.</span><br />
<br />
<span class="hps">Price</span> of <span class="hps">Weaving Cloth</span><br />
<br />
<span class="hps atn">&#8220;</span><span>Endek</span> <span class="hps">of</span> <span class="hps">the most</span> <span class="hps">expensive</span> <span class="hps">silk</span> <span class="hps">I sell</span> <span class="hps">500 thousand</span><span>,</span> <span class="hps">while</span> <span class="hps">the</span> <span class="hps">cotton</span> <span class="hps">around</span> <span class="hps">150 thousand</span><span>.</span> <span class="hps">For this type of</span> <span class="hps">cotton</span><span>,</span> <span class="hps">other than</span> <span class="hps">relatively cheaper</span><span>,</span> <span class="hps">motifs</span> <span class="hps">and</span> <span class="hps">colors were</span> <span class="hps">varied</span><span>,</span><span>&#8221; said the</span> <span class="hps">craftsman</span> <span class="hps">from</span> <span class="hps">the village of</span> <span class="hps">Sampalan</span><span>,</span> <span class="hps">Klungkung</span> <span class="hps">regency</span><span>,</span><span class="hps">it is</span><span>.</span><br />
<br />
<span class="hps atn">&#8220;</span><span>The craftsmen</span> <span class="hps">have to</span> <span class="hps">be smart to</span> <span class="hps">follow trends</span> <span class="hps">in order to</span> <span class="hps">survive in</span> <span class="hps">an increasingly</span> <span class="hps">tight</span> <span class="hps">competition</span><span>.</span> <span class="hps">I also</span> <span class="hps">do not</span> <span class="hps">sell</span> <span class="hps">at a great price</span><span>, just</span> <span class="hps">each page</span> <span class="hps">ten</span><span class="hps">percent</span> <span class="hps">profit</span><span>.</span> <span class="hps">I am</span> <span class="hps">not</span> <span class="hps">profiting</span> <span class="hps">a lot</span> <span class="hps">of</span> <span class="hps">importance</span> <span class="hps">to</span> <span class="hps">steal</span> <span class="hps">the market</span><span>,</span><span>&#8220;</span> <span class="hps">he said</span><span>.</span><br />
<br />
<span class="hps">Frida</span> <span class="hps">also</span> <span class="hps">run a</span> <span class="hps">business</span> <span class="hps atn">that is labeled &#8220;</span><span>Wijaya</span> <span class="hps">Kusuma</span> <span class="hps">Endek</span> <span class="hps">&amp;</span> <span class="hps">Embroidery</span><span>&#8220;</span> <span class="hps">is</span><span class="hps">centered in</span> <span class="hps">London</span> <span class="hps">as</span> <span class="hps">in</span> <span class="hps">the region of origin</span> <span class="hps">in</span> <span class="hps">Klungkung</span> <span class="hps">is too much</span><span class="hps">competition</span><span>.</span><br />
<br />
<span class="hps">Klungkung</span> <span class="hps">community</span> <span class="hps">endek</span> <span class="hps">majority</span> <span class="hps">became</span> <span class="hps">craftsmen</span><span>.</span> <span class="hps atn">&#8220;</span><span>Because of</span> <span class="hps">Denpasar</span><span class="hps">City Government</span> <span class="hps">to promote</span> <span class="hps">the use of</span> <span class="hps">Endek</span><span>,</span> <span class="hps">then</span> <span class="hps">we</span> <span class="hps">expect</span> <span class="hps">Endek</span> <span class="hps">better known</span> <span class="hps">and</span> <span class="hps">parallel to the</span> <span class="hps">batik</span><span>,</span><span>&#8220;</span> <span class="hps">said the woman</span> <span class="hps">who wrestle</span> <span class="hps">Endek</span> <span class="hps">cloth</span> <span class="hps">was</span><span class="hps">hereditary</span><span>.</span><br />
<br />
<span class="hps">While</span> <span class="hps">Sari</span> <span class="hps">Dewi</span><span>,</span> <span class="hps">owner of the</span> <span class="hps">shop</span> <span class="hps atn">&#8220;</span><span>Kwace</span> <span class="hps">Bali</span><span>&#8220;</span> <span class="hps">who</span> <span class="hps">also</span> <span class="hps">exhibited at</span> <span class="hps">the Field</span><span class="hps">Lumintang</span> <span class="hps">Endek</span> <span class="hps">adding</span> <span class="hps">that the</span> <span class="hps">fabric</span> <span class="hps">started to</span> <span class="hps">tune</span> <span class="hps">the community</span><span>.</span><br />
<br />
<span class="hps">It requires</span> <span class="hps">more</span> <span class="hps">artisans</span> <span class="hps">Endek</span> <span class="hps">provides a collection of</span> <span class="hps">fabrics</span><span>.</span></span></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</form></div>
</div>
</span></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=70</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Wisata Selendang dan Sarung Tenun Badui</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=69</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=69#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Mar 2012 05:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Wisata Tenun]]></category>

		<category><![CDATA[badui]]></category>

		<category><![CDATA[selendang]]></category>

		<category><![CDATA[tenun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[


Untuk menuju kampung Badui, kendaraan hanya diperbolehkan sampai terminal wisata Badui di Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Selanjutnya untuk menuju kampung Badui Luar, seperti Kadu Ketug , Gajeboh, atau Balingbing,  diperlukan waktu sekitar satu setengah jam dengan jalan kaki. Sedangkan untuk menuju Badui Dalam diperlukan waktu 4- 5 jam.

Kampung Badui terletak Pegunungan Kendeng yang merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><br class="spacer_" /></p>


<div><p>Untuk menuju kampung <a href="http://www.tokotenun.com">Badui</a>, kendaraan hanya diperbolehkan sampai terminal wisata Badui di Desa Ciboleger, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Selanjutnya untuk menuju kampung Badui Luar, seperti Kadu Ketug , Gajeboh, atau Balingbing,  diperlukan waktu sekitar satu setengah jam dengan jalan kaki. Sedangkan untuk menuju Badui Dalam diperlukan waktu 4- 5 jam.</p>

<p>Kampung Badui terletak Pegunungan Kendeng yang merupakan daerah hulu Sungai Ciujung. Ketinggiannya sekitar  500 – 1.200 meter di atas permukaan laut. Kaum perempuan Badui mempunyai menenun kain sarung atau <a href="http://www.tokotenun.com">selendang</a> saat waktu senggang. Biasanya, menenun dikerjakan sambil menunggu musim panen. Hasil <a href="http://www.tokotenun.com">tenun</a> kaum perempuan Badui di teras rumah ditawarkan ke pengunjung. Selembar selendang tenun ditawarkan antara Rp 25.000–Rp 35.000, sedangkan kain sarung khas Badui di banderol Rp 70.000.</p>

<p>Sejatinya, penduduk Badui adalah masyarakat agraris. Mereka berladang, meskipun tidak banyak yang mereka budidayakan. Mereka hanya menanam padi dan pohon buah lain yang diperbolehkan oleh adat, sseperti umbi-umbian dan buah durian.</p>

<p><br class="spacer_" /></p>

<p>Masyarakat kampung  Badui masih kental memegang adat. Mereka punya kepercayaan yang disebut Sunda Wiwitan, yaitu kepercayaan  yang menjaga tata kosmik kehidupan. Mereka menjauhi berbagai pantangan  semata-mata untuk menjaga keseimbangan alam di lingkungan. Salah satu pantangan yang juga tidak diperbolehkan bagi pengunjung adalah memotret dan membawa barang elektronik lainnya.</p>

<p>Masyarakat Badui merupakan simbol kesederhanaan dan kejujuran. Rumah mereka sangat sederhana, dengan mengandalkan bahan bangunan hasil pemberian alam. Pakaian yang dikenakan juga amat sederhana. Pun demikian dengan makanan yang berasal dari pemberian alam semuanya. Itulah bentuk rasa syukur atas apa yang mereka terima. (sumber: kontan)</p>

<p><br class="spacer_" /></p></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=69</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Kain Tenun Menjadi Souvenir Khas Wisata Sumba Barat</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=67</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=67#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Mar 2012 08:51:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Wisata Tenun]]></category>

		<category><![CDATA[koleksi tenun]]></category>

		<category><![CDATA[tenun]]></category>

		<category><![CDATA[tenun sumba]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Kain tenun dengan motif Sumba Barat menjadi oleh-oleh khas yang paling diburu di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.
 
 Selain sebagai souvenir, para wisatawan juga mencarinya sebagai koleksi. Kain tenun ikat ini aslinya hanya berwarna hitam atau putih. Namun saat ini, beragam warna sudah digunakan. 
 
 Motif paling khas adalah motif rumah adat atau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span><a href="http://www.tokotenun.com">Kain tenun</a> dengan motif Sumba Barat menjadi oleh-oleh khas yang paling diburu di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur.<br />
 <br />
 Selain sebagai souvenir, para wisatawan juga mencarinya sebagai koleksi. Kain <a href="http://www.tokotenun.com">tenun ikat</a> ini aslinya hanya berwarna hitam atau putih. Namun saat ini, beragam warna sudah digunakan.<span> </span><br />
 <br />
 Motif paling khas adalah motif rumah adat atau motif perhiasan perempuan. Kain tenun biasanya berupa selendang, taplak, sarung, dan kain lembaran. Adapula kain tenun yang sudah dibuat menjadi baju seperti blazer atau kemeja.<br />
 <br />
<a href="http://www.tokotenun.com"> Harga kain tenun</a> berbeda tergantung ukuran dan bahan. Selendang dari benang sintetis misalnya, dihargai mulai Rp 20.000. Sedangkan sarung dan kain lembaran dibanderol mulai Rp 120.000.<br />
 <br />
 Sementara kain tenun dari benang pintal kapas harganya tentu lebih tinggi, tak kurang dari Rp 300.000. Tips untuk membedakan kain dari bahan sintetis dengan yang tidak, ternyata tidak sulit. Tenun dari benang pintal kapas tekstur kainnya lebih kasar dan lebih berat saat diangkat.<span> </span><br />
 <br />
 Kain tenun Sumba barat mudah didapat di Pasar Inpres Waikabu yang ada di Waikabubak, ibu kota Sumba Barat. Bisa juga Anda mencarinya di kampung-kampung adat sekaligus melihat langsung proses pembuatannya. Ada juga penjual kain tenun juga menjajakan di pinggir jalan Waikabubak dan lobi hotel. (disarikan dari Kompas)</span></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=67</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Tenun Endek Diburu Masyarakat Menengah ke Atas</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=66</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=66#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2012 06:18:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kabar Kain Ikat]]></category>

		<category><![CDATA[harga tenun]]></category>

		<category><![CDATA[Pernak Pernik]]></category>

		<category><![CDATA[Tenun Bali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[

Kerajinan tenun khas Bali Kain Endek, diminati kalangan masyarakat dari kelas menengah ke atas. Mereka memburu kain endek baik berbahan sutra maupun katun.

&#8220;Dari sisi kekuatan, sebenarnya Endek yang berbahan benang sutra dengan katun, sama saja. Namun, kalangan menengah ke atas lebih condong memilih jenis sutra, terutama dilihat dari sisi kelembutan kain dan gengsi,&#8221; kata pengrajin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><br class="spacer_" /></p>

<p>Kerajinan <a href="http://www.tokotenun.com">tenun</a> khas Bali <a href="http://www.tokotenun.com">Kain Endek</a>, diminati kalangan masyarakat dari kelas menengah ke atas. Mereka memburu kain endek baik berbahan sutra maupun katun.</p>

<p>&#8220;Dari sisi kekuatan, sebenarnya Endek yang berbahan benang sutra dengan katun, sama saja. Namun, kalangan menengah ke atas lebih condong memilih jenis sutra, terutama dilihat dari sisi kelembutan kain dan gengsi,&#8221; kata pengrajin &#8220;Endek&#8221;, Frida Dewi, saat Pameran Kerajinan Masyarakat Bali yang berlangsung pada 27 Februari-1 Maret 2012 di Denpasar, Bali.</p>

<p><a href="http://www.tokotenun.com">Harga Tenun</a></p>

<p>&#8220;Endek dari bahan sutra paling mahal saya jual Rp500 ribu, sedangkan yang berbahan katun berkisar Rp150 ribu. Untuk jenis katun, selain relatif lebih murah, motif dan warnanya pun bervariasi,&#8221; kata pengrajin asal Desa Sampalan, Kabupaten Klungkung, itu.</p>

<p>&#8220;Para pengrajin harus pintar-pintar mengikuti tren agar dapat bertahan di tengah persaingan yang kian ketat. Saya juga tidak menjual dengan harga yang mahal, cukup setiap lembarnya mencari keuntungan sepuluh persen. Saya tidak mencari untung banyak-banyak yang penting bisa mencuri pasar,&#8221; ucapnya.</p>

<p>Frida juga menjalankan usahanya yang berlabel &#8220;Wijaya Kusuma Endek&amp;Bordir&#8221; itu dipusatkan di Denpasar karena di daerah asalnya di Klungkung dianggap terlalu banyak saingan.</p>

<p>Masyarakat Klungkung mayoritas menjadi pengrajin endek. &#8220;Karena Pemkot Denpasar menggalakkan penggunaan Endek, maka kami berharap Endek lebih dikenal dan sejajar dengan batik,&#8221; kata perempuan yang menggeluti kain Endek secara turun-temurun itu.</p>

<p>Sementara Sari Dewi, pemilik toko &#8220;Kwace Bali&#8221; yang juga berpameran di Lapangan Lumintang menambahkan bahwa kain Endek mulai digemari masyarakat.</p>

<p>Hal itu mengharuskan para pengrajin lebih banyak menyediakan koleksi kain Endek. (diolah dari: kompas)</p>

<p><br class="spacer_" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=66</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Obama Kenakan Tenun Ikat di Gala Dinner KTT ASEAN</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=65</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=65#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Feb 2012 06:05:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kabar Kain Ikat]]></category>

		<category><![CDATA[obama]]></category>

		<category><![CDATA[Pernak Pernik]]></category>

		<category><![CDATA[sby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[

Presiden AS Barack Obama mengenakan tenun ikat seperti para pemimpin ASEAN dan para mitranya saat menghadiri Gala Dinner KTT ASEAN di Nusa Dua Convention Centre.

 

Obama yang tetap datang menumpang Chevy Suburban &#8211;bukan kendaraan kepresiden Cadillac One&#8211; adalah tamu terakhir di acara jamuan makan para pemimpin ASEAN dan mitra-mitra wicaranya itu.  Begitu memasuki pintu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.tokotenun.com/content/uploads/obama-sby.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-64 alignleft" style="margin-left: 0px; margin-right: 5px;" title="obama-sby-kenakan-tenun" src="http://www.tokotenun.com/content/uploads/obama-sby-96x96.jpg" alt="obama-sby-kenakan-tenun" width="96" height="96" /></a></p>

<p>Presiden AS Barack Obama mengenakan tenun ikat seperti para pemimpin ASEAN dan para mitranya saat menghadiri Gala Dinner KTT ASEAN di Nusa Dua Convention Centre.</p>

<p><span> </span></p>

<p>Obama yang tetap datang menumpang Chevy Suburban &#8211;bukan kendaraan kepresiden Cadillac One&#8211; adalah tamu terakhir di acara jamuan makan para pemimpin ASEAN dan mitra-mitra wicaranya itu.  Begitu memasuki pintu utama BNDCC, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ani SBY menanti untuk menyambut Obama yang mengenakan tenun ikat berwarna dominan hijau.</p>

<p>Sebelumnya para pemimpin ASEAN termasuk PM Thailand Yingluck Shinawatra dan pemimpin Asia Timur termasuk PM India Manmohan Singh, mendahului Obama tiba di BNDCC.  Namun dalam acara yang didahului sajian tari Bali yang kemudian disambung pidato pembuka dari SBY itu, Presiden Filipina Benigno Aquino III tidak tampak hadir.</p>

<p>SBY dan Ani SBY mempersilakan satu per satu tamu memasuki ruang tunggu jamuan makan malam. Orang terakhir yang dipersilakan memasuki ruang tersebut adalah Barack Obama.  Namun berbeda dari para pemimpin sebelumnya, Obama ditemani pasangan Presiden SBY  dan Ani SBY untuk memasuki ruang tunggu Gala Dinner itu.</p>

<p>Lalu, didahului foto bersama, para pemimpin ASEAN dan mitra-mitra ASEAN tersebut memasuki ruangan jamuan makan secara berbarengan.  Mereka duduk. SBY berdekatan dengan Obama. PM China Wen Jiabao mengapit Obama di sebelah kanannya. Pada beberapa kesempatan Jiabao dan Obama terlihat berbincang akrab.</p>

<p><br class="spacer_" /></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=65</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Sentra tenun Sukarara: kain tenun ikat dan songket (2)</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=63</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=63#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 08:22:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sentra Tenun]]></category>

		<category><![CDATA[kain songket]]></category>

		<category><![CDATA[kain tenun]]></category>

		<category><![CDATA[kain tenun ikat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[







Kain tenun di Lombok ada dua jenis, yakniu tenun ikat dan songket. Kain tenun ikat dikerjakan oleh lelaki. Seharian, mereka bisa menghasilkan hingga tiga meter kain tenun ikat. Sedangkan perempuan menenun songket. Dalam sehari, mereka hanya mampu menenun maksimal 15 cm songket.

Lombok memiliki dua jenis tenun yaitu songket dan ikat. Tenun songket hanya dibuat oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="contenweb">
<div id="tengah">
<div class="box_middle">
<div id="body">
<div class="bagi680px">
<div id="dadi_siji">
<div class="beritanya">
<div class="isi">
<div id="sizefont"><p style="text-align: left;">Kain tenun di Lombok ada dua jenis, yakniu tenun ikat dan songket. Kain <a href="ww.tokotenun.com">tenun ikat</a> dikerjakan oleh lelaki. Seharian, mereka bisa menghasilkan hingga tiga meter kain tenun ikat. Sedangkan perempuan menenun <a href="ww.tokotenun.com">songket</a>. Dalam sehari, mereka hanya mampu menenun maksimal 15 cm songket.</p>

<p>Lombok memiliki dua jenis tenun yaitu songket dan ikat. Tenun songket hanya dibuat oleh perempuan dengan alat manual. Tenun ikat dibuat oleh lelaki dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Kain songket biasa digunakan oleh para perempuan. Ciri khasnya, kain songket ini memiliki sisi depan dan sisi belakang. Songket biasanya menggunakan benang emas sebagai campuran dari bahan katun yang biasa dipakai.</p>

<p>Pembuatannya pun berbeda. Paling sulit dari pembuatan songket ini terletak pada penentuan motif. Pengerjaannya yang manual membuat waktu tenun menjadi lama. &#8220;Satu songket bisa selesai dalam satu bulan,&#8221; kata Masitah. Bahkan ada tenun songket yang baru kelar dalam waktu dua setengah bulan kalau memang motifnya rumit dan pengerjaannya tidak rutin.</p>

<p>Nurdin mengatakan para perempuan yang bekerja menenun songket dari pukul 08.00 hingga 17.00 biasanya hanya mencatat kemajuan tipis. &#8220;Sehari itu mereka bisa menenun minimal 10 sentimeter hingga maksimal 15 sentimeter,&#8221; kata Nurdin. Panjang rata-rata tenun songket ini sekitar 12 sentimeter per hari.</p>

<p>Biasanya para perempuan menenun songket dengan lebar 60 sentimeter dan panjang empat meter. Setelah selesai, songket itu akan dipotong dan disambungkan sehingga menjadi kain dengan panjang 2 meter dan lebar 120 sentimeter. &#8220;Ciri khas lainnya adalah sambungan di tengah untuk menyatukan dua kain itu,&#8221; imbuh Nurdin. Penyambungan kain itu tentu saja dilakukan oleh penjahit yang terampil agar motif dua belahan kain ini bisa menyatu sempurna. &#8220;Satu keluarga biasanya memiliki empat atau lima motif yang khas,&#8221; kata Nurdin.</p>

<p>Adapun tenun ikat memiliki waktu produksi yang lebih singkat. Satu hari, penenun ikat bisa menyelesaikan hingga panjang 3 meter tenun ikat per hari dengan ATBM. Tenun ikat memiliki motif bolak-balik sehingga tidak dibedakan antara bagian depan dan bagian belakang.</p>

<p>Tenun ikat hanya menggunakan bahan dari kain katun saja. Proses awalnya dimulai dari pemintalan benang. Setelah benang dipintal, benang-benang itu digambar motif dengan pensil. Motif tersebut lalu diikat dengan tali rafia untuk kemudian dicelupkan pada pewarna untuk dasarnya.</p>

<p>(Bersambung)</p>

<p style="text-align: left;">Sumber: koran kontan 2011</p></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=63</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Tenun Sukarara: perempuan harus bisa menenun sebelum menikah (1)</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=62</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=62#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 08:10:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Sentra Tenun]]></category>

		<category><![CDATA[kain tenun]]></category>

		<category><![CDATA[tenun ikat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[







Sentra kerajinan tenun Lombok terletak di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggot, Kabupaten Lombok Tengah. Dari Mataram, kita bisa menempuhnya dalam waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi atau taksi. Jangan berharap pada kendaraan umum. Maklum, kendaraan umum di pulau ini terbatas, baik dalam jumlah maupun waktu operasionalnya.

Kita harus menelusuri Jalan Raya Praya, satu-satunya jalan raya besar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="contenweb">
<div id="tengah">
<div class="box_middle">
<div id="body">
<div class="bagi680px">
<div id="dadi_siji">
<div class="beritanya">
<div class="isi">
<div id="sizefont"><p style="text-align: left;">Sentra <a href="http://www.tokotenun.com">kerajinan tenun</a> Lombok terletak di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggot, Kabupaten Lombok Tengah. Dari Mataram, kita bisa menempuhnya dalam waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi atau taksi. Jangan berharap pada kendaraan umum. Maklum, kendaraan umum di pulau ini terbatas, baik dalam jumlah maupun waktu operasionalnya.</p>

<p>Kita harus menelusuri Jalan Raya Praya, satu-satunya jalan raya besar yang mengarah ke Sukarara. <a href="http://www.tokotenun.com">Sentra tenun</a> ini terletak di dekat pasar dan masjid di Sukarara. Untuk menuju pusat tenun, kita berbelok dan masuk ke gang yang kondisi jalannya beraspal seadanya. Kira-kira 500 meter dari jalan raya, kita akan menemukan beberapa rumah yang menyediakan tenun. Di sinilah pusat penjualan berbagai tenun Lombok.</p>

<p>Di barisan paling depan sentra ini ada UD Dharma Setya, salah satu pembuat <a href="http://www.tokotenun.com">tenun</a> yang cukup besar. Produksi tenun Dharma Setya dilakukan di lokasi penjualan dan di rumah penduduk. &#8220;Di sini semacam pooling,&#8221; kata Robiah, pemilik Dharma Setya ketika ditemui KONTAN di Sukarara beberapa waktu lalu.</p>

<p>Masitah, pemilik pusat tenun Tawakal pun melakukan hal yang sama. Perempuan 46 tahun ini masih menenun di rumahnya. Tapi ia juga mengupah para penduduk Sukarara untuk menenun kain &#8220;Saya menyediakan bahan baku dan meminta dibuatkan motif-motif tertentu,&#8221; kata Masitah.</p>

<p>Para penduduk Sukarara, terutama para perempuan memang wajib belajar menenun. Sejak usia kanak-kanak para perempuan tersebut sudah diajari menenun kain dengan motif yang sederhana. &#8220;Saya dulu 10 tahun sudah bisa menenun,&#8221; kata Robiah.</p>

<p>Budaya tenun diwariskan dari orang tua ke anak-anak mereka. Para ibu mewariskan brire, salah satu alat untuk menenun kepada anak perempuannya. Tenun menjadi salah satu warisan penting di Sukarara. &#8220;Di desa lain, perempuan tidak wajib belajar tenun, hanya di Sukarara,&#8221; kata Robiah.</p>

<p>Kewajiban perempuan Desa Sukarara bisa menenun menjadi aturan yang masih berlaku hingga sekarang ini. &#8220;Menurut awe-awe adat, perempuan yang belum bisa menenun tidak boleh menikah,&#8221; kata Nurdin, salah seorang pemandu di Desa Sukarara.</p>

<p><br class="spacer_" /></p>

<p><br class="spacer_" /></p>


<div id="contenweb">
<div id="tengah">
<div class="box_middle">
<div id="body">
<div class="bagi680px">
<div id="dadi_siji">
<div class="beritanya">
<div class="isi">
<div id="sizefont"><p style="text-align: left;">Ada aturan unik: perempuan Desa Sukarara yang belum bisa menenun tapi berani menikah bisa terkena denda. Dendanya berupa uang, padi, atau beras. Aturan soal tenun ini tidak berlaku bagi kaum lelaki, meski ada pula lelaki yang bekerja sebagai penenun kain ikat.</p>

<p>Memang aturan ini tampak diskriminatif. Namun, rupanya ada alasan logis yang mendasari aturan ini. &#8220;Kalau perempuan tidak bisa menenun lalu kawin dan punya anak, akan dikasih makan apa anaknya nanti?&#8221; kata Masitah, pemilik toko tenun Tawakal di Desa Sukarara, kecamatan Jonggot kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.</p>

<p>Keterampilan menenun menjadi satu pegangan hidup bagi perempuan Sukarara. Jadi aturan ini memang buat para perempuan itu sendiri agar bisa mandiri dan menghidupi dirinya. Di Sukarara, pemberdayaan perempuan sudah mulai sejak zaman dulu.</p></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>


<p><br class="spacer_" /></p>

<p><br class="spacer_" /></p>

<p style="text-align: left;">(bersambung)</p>

<p style="text-align: left;">sumber: koran kontan, april 2011</p></div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>
</div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=62</wfw:commentRss>
		</item>


	

	<item>
		<title>Harga Jual Tenun dalam Penelitian Mahasiswa UMM</title>
		<link>http://www.tokotenun.com/menu.php?idx=61</link>
		<comments>http://www.tokotenun.com/?p=61#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jan 2012 07:51:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Pernak Pernik]]></category>

		<category><![CDATA[harga tenun]]></category>

		<category><![CDATA[jual kain tenun]]></category>

		<category><![CDATA[jual tenun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.tokotenun.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Penelitian mahasiswi bernama Hosnol Hotimah ini merupakan studi kasus pada perusahaan Tenun &#8220;Pelangi&#8221; Lawang dengan judul Evaluasi Metode Penentuan Harga Jual Pada Perusahaan Tenun Pelangi Lawang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketepatan penentuan harga jual produk yang dihasilkan oleh perusahaan tenun pelangi Lawang, dimana perusahaan menggunakan metode Full Costing dalam penentuan harga jualnya.

Penelitian ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penelitian mahasiswi bernama Hosnol Hotimah ini merupakan studi kasus pada perusahaan Tenun &#8220;Pelangi&#8221; Lawang dengan judul Evaluasi Metode Penentuan Harga Jual Pada Perusahaan <a href="http://www.tokotenun.com">Tenun</a> Pelangi Lawang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketepatan penentuan harga jual produk yang dihasilkan oleh perusahaan tenun pelangi Lawang, dimana perusahaan menggunakan metode Full Costing dalam penentuan harga jualnya.</p>

<p>Penelitian ini menggunakan tiga analisis diantaranya metode penentuan harga jual yang terdiri dari metode Variable Costing, Metode Return On Capital Employed Pricing (ROCEP), Analisis Varian dan Ramalan Penjualan. Hasil perhitungan dengan analisis metode variabel costing tahun 2003 terdapat selisih tidak menguntungkan Rp 157.580.312 UV, tahun 2004 terdapat selisih tidak menguntungkan Rp 204.273.072 UV, anggaran tahun 2004 terdapat selisih tidak menguntungkan Rp 160.877.620 UV, sedangkan hasil perhitungan dengan metode ROCEP untuk tahun 2003 terdapat selisih tidak menguntungkan Rp 988.172 UV, tahun 2004 terdapat selisih menguntungkan Rp 46.842 V, anggaran tahun 2005 terdapat selisih menguntungkan Rp 819.600 V Dari perhitungan diatas maka metode ROCEP lebih menguntungkan untuk diterapkan diperusahaan tenun pelangi lawang, kemudian dapat kita ketahui ramalan penjualan tahun 2006 dan proyeksi laba-rugi tahun 2006 sebesar Rp 248.716.882 atau mengalami kenaikan 32% dari tahun 2005.</p>

<p>Berdasarkan kesimpulan diatas, penulis dapat mengimplementasikan bahwa sebaiknya perusahaan tidak menerapkan metode penentuan harga jual yang terlalu kaku yang bisa menyebabkan berkurangnya keuntungan perusahaan, dan memperluas daerah pemesaran untuk mencapai target penjualan yang maksimal.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.tokotenun.com/?feed=rss2&amp;p=61</wfw:commentRss>
		</item>


	</channel>
</rss>

