Bolero Tenun Ikat Disuka

Pengertian Bolero adalah pakaian semacam jaket yang pas di badan dengan ukuran setengah dada dan terbuka di bagian depan, bisa lengan pendek atau panjang. Kata bolero sendiri berasal dari nama tarian Spanyol yang memiliki langkah dan berhenti yang dramatis. Demikian yang kita ketahui tentang bolero.

Kini, bolero tenun menjadi salahsatu fashion yang makin digandrungi wanita Indonesia terutama di kota besar. Bolero yang khas eropa dipadu dengan corak tenun khas Indonesia menjadikan bolero tenun terkesan unik dan modern.

Kini, bolero tenun telah tersedia di www.tokotenun.com

Tenun Baron Menjadi Tren


tenun baron

Tenun Baron



Kain tenun baron mempunyai ciri khas motif timbul seperti songket namun hanya menggunakan satu atau dua warna sehingga terlihat simpel dan elegan. Kain seperti ini memang sedang ramai dibicarakan dan banyak di cari para wanita, bahkan pria. Kesan simpel justru menjadi daya tarik, anggun dikenakan wanita dan elegan saat dikenakan pria.

Awalnya, kain seperti ini dikembangkan oleh Wignyo Rahadi. Disela pekerjaannya di sebuah perusahaan produsen benang sutera, pria kelahiran Solo ini memulai membuat kreasi tenun sendiri di sentra tenun sutra Majalaya, Sukabumi. Tidak disangka kain tenun grei (bahan baku) produksinya diminati para desainer dan rumah mode , yang salah satunya adalah desainer kondang Baron Manansang.

Rancangan busana Baron yang menggunakan bahan baku kain tenun karya Wignyo ternyata banyak digemari dan populer di Indonesia. Kain tenunnya pun dikenal dengan sebutan Tenun Baron merujuk pada nama rumah mode di Mampang prapatan Jakarta yang tak lain milik Baron Manansang.

Kain tenun baron banyak dikreasi menjadi kemeja, rok, kebaya, bahkan cheongsam ala China. Di toko tenun online www.tokotenun.com, harga selembar kain tenun baron berkisar antara 175rb sampai 850ribu dengan variasi corak dan bahan. Bahan benang sutera mastuli tentu lebih mahal dari pada rayon. Selamat mencoba

Tenun “Gangnam Style”

Video Gangnam Style menjadi inspirasi mengenalkan budaya asia pada dunia, termasuk kain tenun. Popularitas video unik di Youtube berjudul gangnam style kini menjadi buah bibir seluruh dunia. Bahkan selebriti kelas dunia pun tertarik mencobanya.

Bukan masalah goyangan gangnam style serta mp3nya yang ramai diunduh akan kita bicarakan namun bagaimana mengambil inspirasi budaya asia ke tingkat dunia. Keberanian Park Jae Sang atau PSY menampilkan gaya yang tidak biasa bahkan terkesan norak mestinya membuka mata bahwa tak selamanya budaya barat menjadi primadona. Budaya unik pun bisa mencuri perhatian khalayak di tengah kejenuhan.

Seperti halnya PSY yang menyindir warga Korea yang selalu ingin menjadi warga Gangnam yang elit, tenun pun mesti didorong berbuat serupa. Dominasi bahan pakian dan gaya fashion yang berkiblat ke barat mesti lebih berani melirik kain lokal. Bukan sekadar ditampilkan di dalam negeri namun juga ke manca negara.

Apresiasi patut kita berikan terhadap desainer yang memperkenalkan produk kain tenun Indonesia seperti Sebastian Gunawan dan Priyo Octaviano yang Mei lalu memperkenalkan rancangannya di Jepang. Demikian pula tokoh seperti Okke Hatta Rajasa yang diakui oleh Fashion 4 Development dan ADA Foundation sebagai pemrakarsa dan pendorong kain tenun agar lebih dikenal di mata dunia. Masih ingat pula, upaya mengenalkan kain tenun di PON Riau XVIII lewat tampilan maskot kejuaraan.

So, akankan suatu saat nanti kain tenun menemukan momentum popularitas sebagaimana gangnam style? Mungkin masih jauh, namun bukankah video gangnam style pun sepertinya “tidak masuk akal” bisa sepopuler sekarang?

Kain Tenun di PON Riau

Panitia PON XVIII Riau menampilkan kain tenun siak pada maskot kejuaraan. Bila kita amati, maskot Burung Serindit memang memakai kain tenun yang melingkar di tubuhnya. Itulah kain siak yang merupakan tenun khas masyarakat Riau.

Proses pembuatan kain tenun saik memang relatif lama. Sebagai gambaran, tenun siak motif pucuk rebung diselesaikan tak kurang dari seminggu. Jika mengerjakan pesanan kain untuk upacara adat atau pesta yang menuntut motif lebih banyak, tentu pembuatannya akan lebih lama.

Maka tak heran, harga selembar kain tenun siak berkisar Rp 400.000 hingga Rp 1 juta, bahkan Rp 7 juta untuk kain khusus upacara adat. Harga yang wajar mengingat keindahan dan kesulitan pembuatannya.

Pesona Kain Tenun Khas NTT

Bagian timur wilayah nusantara mempunyai pesona khas tenun etnik. Berbagai suku yang mendiaminya mempunyai budaya yang mempesona. Salahsatunya kain tenun di Sumba. Saat upacara keagamaan, pernikahan, kematian dan acara adat lain, kain tenun menjadi simbol untuk bertukar hadiah dan penghargaan. Cara mengenakan kain tenun antara pria dan wanita pun berbeda. Untuk pria, kain tenun disebut Hinggi dikenakan dengan cara diikat. Sedangkan kain untuk wanita yang disebut sarung Lau Pihikung tidak diikat.

Cara pembuatan kain tenun Hinggi menggunakan teknik yang tergolong tua di wilayah negara kita. Pertama, benang dibentangkan dengan posisi memanjang untuk merancang gambar corak yang selanjutnya diikat dengan tali dan dicelupkan pewarna untuk memperoleh warna dasar. Setelah kering, selanjutnya adalah membuka kalita atau tali gewang pada pola tertentu yang akan dicelupkan pada warna berbeda. Warna dasar umumnya biru dan kedua merah kombu. Pewarna yang meresap dalam benang akan membentuk motif yang menjadi cirri khas tenun ikat. Sementara sarung Lau Pihikung umumnya mempunyai warna dasar dan corak yang disulamkan pada bagian bawah Lau. Untuk menata benang dan corak kain, biasanya digunakan lidi.

Bukan hanya Sumba Timur, daerah lain di NTT juga menghasilkan motif kain tenun yang khas. Tenun dari suku Amarasi di Timor misalnya. Motif yang dihasilkan merujuk status social alam fikiran serta kepercayaan yang dianut. Tenun Sikka terkenal dengan warna gelap seperti hitam atau biru tua dengan corak putih, kuning atau merah.

Walau banyak bernafaskan kepercayaan religi, pada era modern kain tenun menjadi produk seni. Penggunanya pun meluas. Tak ketinggalan para desainer juga menggunakan kekayaan budaya kain tenun NTT sebagai inspirasi rancangan busana.

Dibalik Keindahan Motif Tenun Minahasa

Selembar kain tenun ternyata tak hanya menyajikan tentang keindahan semata, namun juga berbicara tentang falsafah, hikayat, kebudayaan serta seluk-beluk kehidupan di sebuah daerah.

“Keindahan kain selalu bermakna pada kebudayaan, seni kehidupan dan hikaayat pada sebuah daerah,” kata perancang Thomas Sigar yang selalu giat mengeksplorasi keindahan tenun atau kain dari daerah asalnya, Minahasa.