Tenun Blanket pasti sudah tak asing di telinga banyak orang. Apalagi untuk penggemar wastra budaya. Jenis kain tenun yang memulai awal mulanya berbagai variasi tenun di masa sekarang. Mengapa dinamakan tenun blanket? Karena memiliki karakterisitik cukup tebal dan panjang namun tekstur tetap halus dan daya serap tinggi. Lalu, menggunakan benang lungsi pilihan untuk menjadi sebuah kain tenun.
Pada awalnya, di Desa Troso, Jepara. Menenun hanyalah pekerjaan sampingan masyarakat, hingga lambat laun menjadi sumber utama mata pencaharian mereka. Produk rilisan pertama adalah tenun ikat atau yang kerap disebut blanket tadi. Dalam proses pembuatan nya pun masih menggunakan mesin tradisional dan 100% buatan tangan pengrajin sampai sekarang. Fungsi blanket juga beragam, kerap digunakan sebagai bahan pakaian, selimut, properti foto, atau koleksi bagi penggemar wastra tenun.
Pasaran blanket juga semakin marak di mana-mana. Karena setiap pembuatan nya bisa menghasilkan sampai 1 bum. Atau sekitar 80-100 kain tenun. Dan memakan waktu yang cukup singkat tidak seperti endek csm atau tenun double ikat lainnya. Maka dari itu, sebutan blanket ini adalah kain seribu umat sebab banyak jumlah nya di toko toko. Selain jual kain tenun, biasanya banyak toko yang menjual baju ready to wear dari tenun juga untuk menambah daya tarik pelanggan. Karena semakin berkembangnya zaman, tingkat permintaan pelanggan juga semakin beragam. Oleh karena itu, mau tidak mau sebagai pedagang harus selalu menyesuaikan permintaan dan kebutuhan pasar.
Sebuah kain tenun tidak hanya dibuat begitu saja, pasti ada banyak makna yang terkandung di dalamnya. Motif yang sering pengrajin gunakan antara lain adalah flora, fauna, insan, geometri, dll. Biasanya mengadopsi dari motif khas suatu daerah, seperti motif buna dari NTT, motif pamiring dari Toraja, motif kuda dari Sumba, dll. Adapun motif khas dari Jepara sendiri ialah hujan gerimis dan sulur sulur tanaman. Salah satu keunggulan dari tenun memang ada pada nilai budaya pada motif yang terkandung di dalamnya. Warisan turun temurun ini harus selalu lestari untuk menjadi bekal wastra budaya bagi penerus bangsa yang akan datang. Walau popularitas tenun masih jauh di bawah batik, tapi nilai nya tetap sama sebagai warisan Nusantara.
Walau terlihat sepele, perawatan blanket perlu perhatian lebih agar kain tenun tidak mudah rusak dan awet dalam jangka waktu yang lama.