Indonesia memiliki kekayaan budaya berupa kain tenun tradisional yang dihasilkan dengan berbagai jenis alat tenun. Dua di antaranya adalah ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) dan alat tenun gendong. Penggunaan keduanya sama-sama untuk menenun kain secara tradisional, namun memiliki perbedaan dari segi bentuk, cara penggunaan, hingga hasil kainnya.
ATBM adalah singkatan dari Alat Tenun Bukan Mesin, yaitu alat tenun yang pengoprasiannya secara manual tanpa menggunakan tenaga listrik atau mesin. ATBM umumnya terbuat dari kayu dan memiliki rangka yang cukup besar. Dalam penggunaannya, penenun mengombinasikan gerakan tangan dan kaki untuk mengatur benang lungsin dan pakan.
ATBM banyak penggunaannya di sentra industri tenun tradisional karena mampu menghasilkan kain dengan motif yang lebih beragam dan ukuran kain yang lebih lebar.
Alat tenun gendong merupakan alat tenun tradisional yang sangat sederhana. Penyebutan “gendong” karena salah satu bagian alat diikatkan ke tubuh penenun, biasanya di bagian pinggang atau punggung, sehingga posisi benang disesuaikan dengan gerakan tubuh penenun.
Alat tenun ini umumnya digunakan di lingkungan rumah tangga dan sering dijumpai pada masyarakat tradisional. Proses menenun dilakukan sepenuhnya dengan tenaga manusia dan sangat bergantung pada keterampilan penenun.
Perbedaan antara ATBM dan alat tenun gendong berikut ini:
ATBM dan alat tenun gendong sama-sama berperan penting dalam pelestarian kain tenun tradisional Indonesia. ATBM cocok untuk produksi kain yang lebih banyak dan bermotif kompleks, sedangkan alat tenun gendong mencerminkan nilai budaya dan tradisi secara turun-temurun. Perbedaan keduanya menunjukkan keberagaman teknologi tradisional dari bangsa Indonesia.