Tenun Ikat Ganda, Tenun Endek, merupakan jenis kain tenun yang ramai di pasaran. Jenis tenun apakah itu?
Kain tenun sendiri memiliki banyak jenis dan variasi nya. Karena daerah penghasil tenun cukup tersebar di daerah-daerah di Indonesia. Salah satunya tenun endek dan ikat ganda yang terkenal akan khas Bali. Kata Endek berasal dari kata “gendekan” atau “ngendek” yang berarti diam atau tetap, tidak berubah warnanya. Sedangkan ikat ganda berasal dari penenunan dengan teknik menyilangkan atau mendouble benang pakan, sehingga disebut ikat ganda.
Berbeda dengan tenun rewoven yang ditenun sebanyak dua kali. Ikat ganda dan endek hanya melalui proses penenunan sekali tetapi dengan kepadatan benang yang lebih. Berkisar antara 80-85 penggunaan sisir pada alat tenunnya. Jadi tidak semua pengrajin membuat atau menjual kain tenun jenis ini.
Jenis kain tenun yang berasal dari Desa Sulang, Bali. Yang lama-lama berkembang pesat hingga era sekarang. Walaupun di era sekarang, endek sudah terkenal dimana-mana. Tetap saja salah satu kriya tenun ini pernah mengalami pasang surut, entah karena lemahnya perekonomian. Atau bantuan pembinaan dari pemerintah telah terputus. Lalu, penggunaan endek di Bali sering dijadikan sebagai seragam sekolah atau seragam kantor. Tapi, ada motif tertentu yang memang khusus dan sakral untuk penggunaan pada acara keagamaan saja. Namun sekarang, endek berubah menjadi bahan dasar pakaian formal, atau gaya fashion kekinian. Karena mengikuti tren sekarang dan mode fashion kekinian.
Motif yang menjadi inspirasi tenun endek biasanya mengambil dari motif patra yang sifatnya sakral. Untuk kepentingan acara keagamaan yang memiliki arti rasa hormat kepada Sang Pencipta. Sedangkan untuk inspirasi motif alam atau kesan alam lebih cocok untuk kegiatan sehari-hari. Biasanya menggambarkan flora, fauna, atau tokoh-tokoh wayang dalam mitologi Bali. Dan untuk motif lain dari tenun endek, biasanya mengambil dari pola pola geometris sebagai simbol keyakinan masyarakat di Bali.
Proses pembuatan :
Dalam pembuatan tenun endek, memerlukan pengelolaan dari benang lungsi dan benang pakan.
Sekilas dari gambar, dua jenis kain tenun ini tampak sama dan tidak memiliki perbedaan. Namun jika ditelaah lebih mendalam, perbedaan pada kedua tenun ini cukup signifikan. Yaitu pada proses pembuatannya. Lebih rumit dan lebih kompleks daripada tenun endek. Untuk pewarnaan pada double ikat butuh tiga sampai empat kali pencelupan sehingga hasil lebih nyata dan sesuai dengan referensinya. Jenis double ikat hampir mirip seperti kain khas Jepang yaitu Kurume Kasuri dan Patola dari India.
Lalu penggunaan benang pada benang double ikat menghabiskan dua set benang, berbeda dengan tenun ikat lain yang membutuhkan satu set saja. Tidak semua pengrajin menguasai teknik penenunan double ikat, karena memerlukan teknik khusus dan ketelitian lebih. Lalu, perbedaan selanjutnya antara double ikat dan endek adalah ukuran kainnya. Jika endek berkisar 2,3-2,5 meter. Untuk double ikat bisa mencapai 3 meter per potongnya. Tapi kelebihan dari endek adalah tersedia ukuran meteran jadi bisa menyesuaikan kebutuhan konsumen tidak berpatok pada ukuran potongan.
Kebanyakan orang membeli tenun adalah untuk bahan busana seperti baju, outer, atau dress, blazer, dll. Dan bisa juga sebagai bahan kombinasi seperti tas, dompet, pouch, peci, udeng, bahkan blangkon. Banyak fungsi dan kegunaan tenun untuk kehidupan sehari-hari. Jadi untuk mengoleksi kain tenun dijamin tidak rugi atau nganggur begitu saja karena banyak manfaatnya.