Selain populer dengan menu sajian rendang, kota Padang juga memiliki kekayaan wastra nusantara yang khas berupa batik Padang. Corak motif yang khas mencerminkan kehidupan masyarakat lokal, yang ditinjau dari segi sejarah, kebudayaan hingga kekayaan alam setempat.
Selain jual kain tenun ikat, tokotenun.com memang mengulas kain tradisional khas nusantara lain agar kita lebih mengenal dan lebih mencintai wastra Indonesia. Setelah sempat membahas batik Trenggalek, batik Jepara, dan Batik Jember, kali ini kita akan mengenal Batik Padang.
Dalam bahasa Minangkabau, batik Padang disebut sebagai batik “tanah liek” karena pada proses pembuatan yakni pewarnaan batiknya tersebut menggunakan tanah liat. Pada perkembangan batik Padang, sebenarnya juga banyak terpengaruh oleh budaya Melayu, Cina, India, Thailand, dan Portugis dengan pemilihan warna yang unik, seperti merah, kuning kunyit, hitam, dan turquoise.
Untuk lebih lengkapnya, berikut adalah ringkasan ulasan mengenai sejarah, ciri khas, serta berbagai macam motif batik Padang.
Menelusuri Sejarah Batik Padang
Berdasarkan catatan sejarah, batik Padang bermulai pada abad ke-16 sejak adanya zaman kerajaan Minangkabau yang berpusat di Pagaruyung, Batusangkar. Tertulis juga bahwa batik Padang diduga dibawa ke daerah setempat oleh masyarakat yang berasal dari Cina. Kala itu, batik Padang terkenal secara luas dengan sebutan batik tanah liek, yang dalam bahasa Minang berarti tanah liat. Hal ini berhubungan erat dengan proses pembuatan kain batik Padang yang cukup rumit. Termasuk unik karena melibatkan penggunaan tanah liat sebagai bahan pewarna dasar.
Pada tahap awal, kain batik akan melalui proses perendaman terlebih dahulu dengan menggunakan tanah liat dalam kurun waktu sekitar 1 minggu. Setelah selesai perendaman tanah liat, barulah berlanjut dengan pewarna alami. Bahan pewarna alami umumnya berasal dari tanaman. Proses pengolahan beberapa tumbuhan secara tradisional akan menghasilkan warna yang khas pada kain batik Padang. Tumbuhan yang menjadi bahan pewarna alami yaitu getah gambir, kulit rambutan, kulit jengkol, kulit mahoni, Jerami padi, dan masih banyak lagi.
Dahulu, yang bisa memakai batik Padang hanya para pemuka adat seperti Datuak (penghulu atau kepala adat), Bundo Kandung (pemimpin wanita), serta raja-raja kecil yang ada di Solok, Jambu Lipo Punjung, dan Sungai Pagu. Di sisi lain, batik tersebut juga menjadi sarana perlengkapan upacara adat yang dapat berupa selendang untuk kaum wanita. Para wanita akan melampirkan selendangnya di bahu. Ujung kain pertama dililit dua kali di bahu sebelah kiri serta ujung lainnya disampirkan di tangan kanan melalui bagian belakang badan.
Ciri Khas Batik Padang
Sebagai warisan budaya setempat, batik Padang mempunyai motif serta ciri khas yang tergolong unik. Beberapa motif yang tergambar, terinspirasi dari sumber kekayaan alam, bangunan tradisional, satwa endemik sekitar, hingga kegiatan sehari-hari penduduk lokal. Tak hanya berguna sebagai bahan pakaian, namun kain batik Padang juga turut menjadi simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Minangkabau.
Motif Batik Padang yang Terkenal
Berikut adalah ragam jenis motif batik Padang yang pada setiap coraknya memiliki makna filosofis kehidupan yang penting.
1. Motif Kaluak Daun Pakis
Terinspirasi dari kehadiran tumbuhan paku atau pakis yang banyak tumbuh di daerah pinggiran sungai maupun hutan lembab yang ada di Indonesia. Dalam bahasa Minang, kaluak berarti meliuk-liuk. Sehingga, secara harfiah motif kaluak daun pakis ini menggambarkan daun pakis yang meliuk-liuk.
2. Motif Rangkiang
Motif selanjutnya ialah Rangkiang yang secara asal-usul berasal dari nama lumbung atau tempat penyimpanan padi. Sebab, Rangkiang sendiri berarti lumbung padi dalam bahasa Minang. Makna filosofis yang terkandung di dalam motif ini lebih condong terhadap hal yang berkaitan dengan kesejahteraan hidup. Karena sejatinya, tanaman padi telah menjadi sumber makanan pokok masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu.
3. Motif Pucuk Rebung
Makna filosofis yang terdapat dalam motif pucuk rebung cenderung membahas mengenai kesejahteraan, kesuburan, serta harapan. Sebagai jenis makanan tradisional yang berasal dari batang bambu muda, rebung cukup populer hingga menjadi motif batik. Hal ini bukan hanya terjadi di Padang, namun juga ada di beberapa provinsi lain, yakni seperti Jakarta dan Riau.
4. Motif Tanah Liek atau Tanah Liat
Selanjutnya motif tanah liek, yang dalam bahasa Minangkabau berarti tanah liat. Hal ini karena pada proses pembuatan batik Padang tidak terlepas dari peran tanah liat sebagai bahan pewarna kain batik tersebut. Secara teknis, kain batik yang polos akan direndam ke dalam air yang bercampur dengan tanah liat selama seminggu. Setelah itu, diberi dengan pewarna lain lagi, seperti contohnya jengkol atau getah kulit jering. Tetapi lambat laun, penggunan tanah liat di pasaran kain batik tradisional sebagai bahan pewarna semakin jarang penggunaannya.
Beberapa corak motif dari batik ini yang sering terlihat ialah kuda laut, jam gadang, serta burung hong atau yang saat ini lebih populer dengan sebutan burung Phoenix. Tentu, ini menunjukkan bahwa motif batik Padang juga mendapatkan pengaruh besar dari kebudayaan Cina hasil interaksi para pedagang Tiongkok yang masuk ke daerah Minangkabau sekitar abad ke-16.
5. Motif Randai
Motif tersebut terinspirasi dari budaya randai sebagai seni pertunjukan tradisional rakyat Minangkabau. Randai merupakan pertunjukan berkelompok dengan membentuk lingkaran serta melangkahkan kaki secara perlahan, sembari menyampaikan cerita dengan gaya menyanyi bergantian. Ringkasnya, randai adalah perpaduan yang unik antara unsur tari, musik, drama, serta pencak silat. Setiap gerakan maupun dialog pada pertunjukan mengandung makna yang mendalam. Hal ini menunjukkan cerminan moral serta nilai-nilai kehidupan dari masyarakat Minang sendiri.
6. Motif Slobog
Sebagai motif yang termasuk geometris, slobog memiliki bentuk garis yang tegas dengan kotak-kotak kecil yang terpisah oleh dua garis, sehingga menghasilkan empat potongan segitiga. Salah satu pada motif yang terpisah oleh garis terdapat bulatan dengan enam bintik kecil yang mengelilinginya.
Selain penjelasan bentuknya yang cukup menarik, ternyata Slobog juga menyimpan makna filosofis yang mendalam. Kata Slobog mempunyai arti longgar. Karena itu, secara tidak langsung motif ini menyiratkan doa agar seseorang yang meninggal tidak mengalami kesulitan menghadap Sang Pencipta. Tak kalah penting, memakai batik ini dalam upacara pemakaman juga menjadi salah satu bentuk doa. Dengan harapan, agar keluarga yang ditinggalkan oleh orang terkasihnya senantiasa mendapat ketabahan serta kesabaran.
Selain itu, para pejabat pemerintahan juga kerap kali mengenakan batik motif ini. Sebab motif slobog melambangkan harapan besar supaya mendapat petunjuk serta kelancaran dalam menjalankan semua tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
7. Motif Gunung Marapi
Sumber inspirasi dari motif ini tentunya adalah ikon Gunung Marapi yang megah. Kehadiran Gunung Marapi di tanah Sumatera Barat menjadi nilai simbolis yang sangat kuat bagi masyarakat sekitar. Sebagai aspek penting yang tidak terpisahkan dari identitas warga Minangkabau. Gunung ini telah mengambil peranan mendalam dalam kehidupan sehari-hari serta adat istiadat penduduk lokal. Terlepas dari daya pikat keindahan alamnya yang luar biasa, Gunung Marapi telah lama dipandang sebagai posisi sentral. Selain itu Gunung Merapi juga menjadi titik fokus yang strategis dalam perkembangan kehidupan serta budaya masyarakat Minangkabau.




