Tenun Sutra adalah kain tenun yang ada sejak zaman dahulu yang menjadi cerminan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang turun temurun. Khususnya di Sulawesi Selatan, kain tenun dari benang sutra memiliki nilai historis, artistik, dan ekonomi yang tinggi. Karena benang sutra memiliki tekstur mulus, lembut, tetapi tidak licin. Serta permukaan kain yang berkilauan menjadi daya tarik tersendiri yang diminati banyak orang. Memiliki karakteristik yang hampir sama dengan tenun baron, tetapi pembedanya ada pada benang yang digunakan. Meski sama-sama tenunan, nyatanya hasil dan proses tiap kain tenun berbeda-beda. Dan penjual kain tenun juga menjual jenis yang beragam pula, tergantung permintaan dari pelanggannya.
Asal Usul Benang Sutra
Sutra sebagai bahan dasar tenun, kebanyakan berasal dari kepompong ulat sutra, contohnya ulat murbei yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu di Tiongkok. Sedangkan di Indonesia, tradisi menenun kain sutra berkembang di daerah Sulawesi Selatan, terutama pada bangsawan Bugis dan Makassar. Yang menjadi busana penting pada upacara adat, atau acara-acara adat lainnya.
Jenis-Jenis
Jenis dari benang sutra juga banyak sekali, tergantung sumber ulat atau bentuk benang nya.
Berdasarkan sumber ulat:
- Sutra Murbei, jenis paling umum dan tinggi kualitasnya. Diperoleh dari ulat murbei yang memakan daun murbei sehingga menghasilkan benang yang kuat dan lembut.
- Sutra Tasar, hasil dari ulat genus antheraea yang memiliki warna alami krem keemasan dan tekstur cenderung kaku. Sering menjadi bahan busana seperti sari.
- Sutra Eri, terbuat dari kepompong mulut terbuka. Butuh perataan menyeluruh sebelum menjadi benang. Dan memiliki serat lebih pendek mirip katun atau wol.
- Sutra Muga
Berdasarkan bentuk benang:
- Sutra Filamen, benang filamen yang panjang menjadikan jenis ini sangat kuat dan murni. Cocok menjadi bahan pakaian halus nan mewah.
- Sutra Spun, serat pendek yang dipintal bersamaan menjadi sebuah benang. Mirip seperti katun atau wol yang tekstur nya lembut.
Perbedaan Tenun Sutra Dengan Tenun Lain
Contoh perbedaan dari segi bahan adalah, kain jauh lebih halus, lembut dan mengkilap. Lalu, penggunaann warna cenderung lebih hidup seperti lukisan yang memantulkan cahaya. Sementara itu, proses pembuatannya membutuhkan keterampilan tinggi karena sutra lebih licin dan mudah rusak jika tidak ditangani dengan hati-hati.
Sedangkan tenun ikat biasa lebih menonjolkan teknik pewarnaan benang sebelum proses menenun. Dan songket identik dengan tambahan benang emas atau perak untuk memberikan kesan mewah. Tenun sutra menonjol dalam hal kelembutan bahan dan kemewahan alami dari seratnya.
Proses Pembuatan
Pembuatannya hingga menjadi kain, melalui banyak proses, awalnya pemeliharaan ulat sutra hingga menjadi kepompong. Lalu, kepompong direbus dalam air panas untuk melarutkan getah yang menyatukan serat dan membunuh ulat di dalamnya. Kemudian penguraian benang menjadi benang yang tunggal dan panjang. Setelah itu barulah pemintalan benang terjadi, yang menjadikannya seperti gulungan benang sutra. Terakhir, barulah pewarnaan, dan proses menenun.
Keunggulan Tenun Sutra
Tenun sutra memiliki berbagai keunggulan, baik dari segi estetika maupun fungsional. Kain ini sangat lembut, ringan, namun kuat. Daya serapnya tinggi, membuatnya nyaman di iklim tropis. Selain itu, tenun sutra tahan lama dan warna-warnanya tidak mudah pudar. Dari sisi estetika, kilauan alami benang sutra memberikan kesan mewah yang sulit berbeda dengan jenis tenun lain.




